Rumah Belajar Kopi Cipeuteuy
Karena Desa Cipeuteuy memiliki kopi Arabika dan Robusta yang terlantar dan tidak terkelola secara maksimal. Dari penilaian mutu biji kopi yang bekerjasama dengan Dapoer Kaoem didapati keunikan cita rasa, khususnya kopi Arabika Cipeuteuy. Untuk lebih meningkatkan pengolahan dan mutu kopi Cipeutey maka dibentuk Rumah Belajar Kopi Cipeuteuy.
Rumah belajar bisa dikatakan mirip dengan pusat pendidikan dan pelatihan, yang dikelola secara bersama-sama. Mulai dari praktek budidaya tanaman kopi langsung di kebun belajar dan proses pengolahan kopi paska panen di workshop milik bersama (koperasi). Pada hakikatnya RuBe Kopi adalah sebuah inisiatif bersama petani kopi untuk mengoptimalisasi budidaya tanaman kopi, peningkatan pengolahan dan mutu biji kopi untuk peningkatan ekonomi lokal.
Absolute Coffee badan usaha Desa Cipeuteuy beroperasi aktif pada bagian hilir usaha kopi. Baik untuk pemasaran lokal dengan membuka kedai kopi Mami Rindhu juga meluaskan pemasaran dengan berjejaring pada Sarekat Rumah Belajar Kopi Nusantara.
Indahnya Gunung Halimun, Kampungku Tinggal Kini.
Di Bagian Barat kabupaten Bogor, kami bersama kawan-kawan Komunitas Remaja Ciketug lebak Tani lestari(Recikal Tani Lestari) dan Komunitas Wilayah Ciliwung Cisadane, Memcoba membagun sebuah Kampung Wisata dengan fasilitas Home Stay. dan berbagai Wisata kampung seperti Memancing Belut di Sawah, menangkap belalang, belajar bertani dengan petani, menanam pohon, menanam padi, memanen padi, naik kebo, membajak sawah, mencari tutut (keong) dan permainan ala kampung lainya.
Indah dan Serunya Mancing di Ciaruteun, Sub DAS Cisadane.
Pada kegiatan rutinitasnya komunitas Ciliwung Cisadane (KWCC) kali ini mencoba memancing ikan di sub DAS Cisadane tepatnya di sungai Ciaruteun Kecamatan Ciampea Kabupaten Bogor. KWCC terkagum akan Indahnya pesona alam Curug Ciaruteun atau lebih di kenal dengan nama Curug Jatake, yang pada saat KWCC berkegiatan mancing pada tanggal 28September 2013 di sajikan pesona keindahan alam sekitarnya.
Satu Hulu Beda Daerah alirannya "Tjiliwoeng Tjisadane", Beda Pula yang di Ancam.
Gunung Halimun Salak merupakan salah satu Gunung yang menjadi hulu sungai Cisadane, sungai Cisadane mengalir dari kawasan Kabupaten Bogor di bagian hulunya dan bermuara di kota Tangerang, sungai ini merupakan sungai yang penuh sejarah. Bicara soal sungai Cisadane tidak luput dari peninggalan sejarahnya bahkan rasanya kurang pas jika hanya membicarakan tentang Sungai Cisadane dan keterkaitannya akan sejarah sungai Cisadane dengan sungai Ciliwung. Sungai Ciliwung, mengalir dari kawasan puncak Gunung Gede Pangrango Kabupaten Bogor Jawa Barat sepajang kurang lebih 120 KM, Ciliwung menggalir hingga bermuara di propinsi DKI Jakarta yang membujur dari selatan hingga ke utara menuju laut Jawa di teluk Jakarta.
Naga Ciliwung
Ayam, burung menyanyi dan menari
Tak sadar aku berjalan dan melangkahkan kaki
Jauh .... sekitar sekretariat fwi
Seren Taun ke-644 Kasepuhan Ciptagelar
Maaf sebelumnya jika pemberitahuan ini terlambat ...
Namun walau terlambat, tentu masih lebih baik daripada tidak ada sama sekali.
Seren Taun adalah sebuah ritual adat yang terkait dengan upaya mensyukuri hasil pertanian, terutama padi. Terdapat sejumlah ritual adat yang dilakukan sebelum diselenggarakannya Seren Taun, yaitu Turut Nyambut, Ngaseuk, Mipit, dan Nganyaran. Dengan demikian ritual Seren Taun dianggap sebagai ritual terakhir dalam satu tahun kegiatan pertanian. Mungkin bisa juga disebut sebagai puncak ritual adat untuk padi.
Padi ditanam secara organik di sawah dan di ladang (huma). Ia ditanam selama setahun sekali. Begitu dihormatinya padi, bahkan ia hanya boleh dipanen dengan menggunakan ketam (ani-ani), tidak boleh dimasak dengan rice-cooker atau magic jar, serta tidak boleh diperjual-belikan.
Dalam acara Seren Taun, biasanya akan ditampilkan beragam jenis kesenian adat Sunda, seperti Jipeng, Wayang Golek, Dogdog Lojor, Pencak Silat, dan lain-lain.
Naahh ... tunggu apa lagi, jika Anda sempat silakan berkunjung ke Kasepuhan Adat Ciptagelar. Diperkirakan acara Seren Taun ini akan dihadiri oleh ribuan orang. Tentu saja acara ini akan sangat meriah ...
informasi lain mengenai Seren Taun ini dapat dilihat juga di sini atau pada laman facebook ini
Gerakan Berbagi Peduli Terhadap Sesama
Dalam rangka membantu anak-anak kurang mampu, Saung Design bersama dengan OC (Oerang Cipeuteuy) menyelenggarakan sunatan masal untuk 100 anak di 6 desa di kecamatan Kabandungan yang akan dilaksanakan pada tanggal 08 Juli 2012.
Sebagai upaya penggalangan dana untuk kebutuhan acara ini, OC dan Saung Design menyiapkan 500 pcs kaos yang akan dijual kepada donatur dengan harga Rp. 100.000/pcs royalti penjualan kaos tersebut akan digunakan sepenuhnya untuk kebutuhan acara ini.
Pesan Sekarang di line telpon:
M.Kosar : 081318726321 - 085797442211
Affeh : 081280510911
Kasepuhan Adat Ciptagelar
Kasepuhan adat Ciptagelar adalah satu kampung adat yang masuk dalam Kesatuan Adat Banten Kidul, kasepuhan adat ciptagelar masih memegang kuat adat dan tradisi yang diturunkan sejak 640 tahun yang lalu. Kasepuhan ini dipimpin oleh seorang Abah yang diangkat berdasarkan keturunan, sampai saat ini kasepuhan adat Ciptagelar sedang dipimpin oleh Abah yang ke sebelas sejak tercatatnya kasepuhan ini dari tahun 1368.
Kasepuhan adat Ciptagelar berdiri di Bogor 640 tahun yang lalu. Tempat tinggal kasepuhan selalu berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat yang lain, pindahnya tempat tinggal ini dikarenakan datangnya wangsit dari leluhur kepada abah. Pada akhir tahun 2000 Abah Anom (alm. Encup Sucipta) sebagai pemimpin kasepuhan pada saat itu menerima wangsit (perintah) dari leluhur untuk pindah dari Kampung Ciptarasa ke Kampung Ciptagelar. Ciptagelar artinya terbuka atau pasrah menerima perpindahan tersebut. Wangsit ini diterima oleh alm. Abah Anom setelah melalui proses ritual beliau yang hasilnya tidak boleh tidak, mesti dilakukan. Oleh karena itu perpindahan kampung adat merupakan kesetiaan dan kepatuhan kepada para leluhur.
Secara administratif, kampung Ciptagelar berada di wilayah dusun Sukamulya, desa Sirnaresmi, kecamatan Cisolok, kabupaten Sukabumi. Jarak kampung Ciptagelar dari desa Sirnaresmi 14 km, dari kota kecamatan 27 km, dari pusat pemerintahan kabupaten Sukabumi 103 km dan dari Bandung 203 km ke arah barat. Kampung Ciptagelar berada pada posisi koodinat S 6°47'10,4" pada saat ini kasepuhan Ciptagelar dihuni oleh 293 orang yang terdiri dari 84 kepala keluarga yakni 151 orang laki-laki dan 142 orang perempuan (data tahun 2008).
Perjalanan ke Kampung Ciptagelar
Bagi sebagian orang nama Ciptagelar mungkin bukan nama yang asing didengar, kampung ini terkenal dengan tradisi dan budaya sunda. Ciptagelar terletak di selatan daerah pegunungan Taman Nasional Gunung Halimun - Salak (TNGHS), tepatnya berada diwilayah desa Sirnaresmi kecamatan Cisolok kabupaten Sukabumi.
Banyak jalur/rute menuju kampung kasepuhan Ciptagelar, diantaranya rute dari kampung wisata Citalahab, rute ini sangat cocok untuk yang mempunyai minat khusus seperti hiking/tracking. Pintu masuk yang lainnya adalah melalui rute kampung Cipeuteuy dan Cihamerang, rute ini biasa digunakan oleh masyarakat sekitar untuk masuk dan keluar kampung dengan berjalan kaki, bagi yang suka berpetualang dengan motocross jalur ini sering menjadi pilihan. Kali ini saya berkunjung bersama saudara saya di Telapak melalui jalur Pelabuhan Ratu tepatnya Sukawayana, jalur ini bisa dilalui kendaraan roda empat, karena jalannya berbatu (belum di aspalt) dan terdapat tanjakan dan turunan yang curam, demi kenyamanan jalur ini disarankan dengan menggunakan kendaraan 4WD (four wheel drive). Pintu masuk yang lainnya terdapat di kampung Cicadas atau Desa Sirnaresmi, jalur ini relativ landai sehingga masih bisa dilalui dengan kendaraan biasa.Kunjungan kami kali dimaksudkan untuk silaturahmi dengan pemimpin adat kasepuhan Ciptagelar, selain itu kami bermaksud untuk berkunjung dan bertemu dengan saudara kami yang bernama Yoyon dan Ressa yang baru-baru ini resmi menjadi warga Ciptagelar.
Ditengah perjalanan mobil yang kami gunakan bermasalah/mogok, saat itu hujan turun sangat deras, mulanya kami hanya duduk santai dan berbincang karena kami pikir mungkin mesinnya kena air saja, jadi tinggal tunggu kering. Setelah dirasa kering mas Ruwi (Ambrosius Ruwindijarto) yang kebetulan pada saat itu jadi komandan perjalanan mulai menstarter zzzszszszzssss...... beberapa kali dicoba tapi tidak bisa hidup, kami mulai panik dan spontan mas Daru (Hendaru Jumantoro) mulai
Refresh Otak, Sejenak ke TNGH-S
Hiruk pikuk ibukota mungkin menjadikan Anda jenuh dan lelah untuk menjalani pekerjaan sehari hari yang padat dan menumpuk, sangat cocok sekali bagi Anda yang kebetulan mempunyai waktu luang liburan untuk me”refresh”otak menghilangkan kejenuhan dan mampir ke Taman Nasional Gunung Halimun.
Jaraknya sekitar 100km dari Jakarta, Pintu masuk kawasan berada di kabandungan, sekitar 30 km dari Parungkuda yang berada pada jalur utama Bogor - Sukabumi, sekitar 3 km sebelum Cibadak. di tempat ini terdapat maket tiga dimensi Taman Nasional, foto -foto, serta film. disini pula anda harus melaporkan kunjungan anda sekaligus mengkonfirmasi booking yang telah anda buat.
Dari Kebandungan, perjalanan dilanjutkan ke Cikaniki, dengan jarak sekitar 12 km. memasuki kawasan taman nasional, aspal mulus berganti jalan tanah yang dilapisi batu batu. hal ini dimaksudkan untuk membatasi pengunjung sekaligus meminimalkan kegiatan para pencuri kayu.
Taman Nasional Gunung Halimun merupakan perwakilan tipe ekosistem hutan hujan dataran rendah, hutan sub-montana dan hutan montana di Jawa. Hampir seluruh hutan di taman nasional ini berada di dataran pegunungan dengan beberapa sungai dan air terjun, yang merupakan perlindungan fungsi hidrologis di Kabupaten Bogor, Lebak, dan Sukabumi. Terdapat kurang lebih 204 jenis burung dan 90 jenis diantaranya merupakan burung yang menetap serta 35 jenis merupakan jenis endemik di Jawa termasuk burung elang Jawa (Spizaetus bartelsi). Selain itu terdapat dua jenis burung yang terancam punah yaitu burung cica matahari (Crocias albonotatus) dan burung poksai kuda (Garrulax rufifrons). Burung elang Jawa yang identik dengan lambang negara Indonesia (burung garuda), cukup banyak dijumpai di Taman Nasional Gunung Halimun.
Beberapa tempat eksotis yang mungkin wajib anda kunjungi disini adalah :
Air Terjun (Curug)
Keindahan air terjun merupakan salah satu daya tarik yang banyak diminati wisatawan, baik domestik maupun mancanegara. Pada umumnya air terjun terbentuk karena terjadinya patahan kulit bumi sehingga aliran air terpotong membentuk loncatan air sesuai prinsip aliran air dari ketinggian ke tempat yang lebih rendah. TNGH mempunyai banyak air terjun, seperti :
- Curug Cimantaja dan Curug Cipamulan, terletak di desa Cikiray, kecamatan Cikidang dan kabupaten Sukabumi
- Curug Piit (Curug Cihanjawar), Curug Walet dan Curug Cikudapaeh, terdapat di sekitar Perkebunan Teh Nirmala
- Curug Citangkolo, terletak di desa Mekarjaya, kecamatan Kabandungan, kabupaten Sukabumi
- Curug Ciberang dan Curug Cileungsing, terletak di sekitar kampung Leuwijamang
- Curug Ciarnisah, terletak di sekitar kampung Cibedug Taman Nasional Gunung Halimun-Salak
- Di Gunung Salak terdapat beberapa curug diantaranya Curug Cangkuang (Cidahu); Curug Pilung (Girijaya); Curug Cibadak (Cijeruk); Curug Citiis (Ciapus); Curug Nangka (Taman Sari); Curug Ciputri (Tenjolaya); Curug Cihurang, Cirug Cigamea, Curug Ngumpet dan Curug Seribu (Pamijahan), Curug Cibereum (Jayanegara).
Ketika Rakyat Tidak Lagi Dapat Membedakan Proyek dan Program
Sebuah tulisan sebagai ungkapan kegundahan seorang teman yang bernama Abdul Maal dari Kabupaten Konawe Selatan Provinsi Sulawesi Tenggara.
Di sebuah Desa yg di anggap dulu terpencil yg memiliki Sumber Daya Hutan, Tanah dan Air yang melimpah ruah, Sumber Daya tersebut masih menjadi tumpuan harapan masyarakat Desa sebagai tempat pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari mereka, mereka hidup sejahtera, aman dari hiruk pikuk kendaraan, aman dari hiruk pikuk bunyi mesin, aman dari hiruk pikuk suara demonstran, aman dari hiruk pikuk perebutan Sumber Daya, mereka jalani bertahun-tahun tanpa konplik, hidup berdampingan satu sama lain, saling menghargai yg Tua dan Muda bahu- membahu membangun fasilitas yang mereka butuhkan, semua mereka penuhi dari lingkungan sekitar mereka sendiri.
Namun kenyamanan ini tiba-tiba mulai terusik dengan kedatangan orang Luar, mereka datang membawa teknologi dengan alasan " Pemberdayaan Masyarakat " mereka menganggap bahwa masyarakat yang mereka datangi ini Miskin, masyarakat terbelakang, masyarakat tidak berpendidikan. Mulailah masyarakat mengenal barang-barang buatan Pabrik dengan tampilan yg memukau, TV, Motor, Perabotan dapur dan peralatan yang serba digital.
Untuk mendapatkan barang tersebut dimulailah transaksi dengan cara barter, 1 TV di tukar dgn 1 ha lahan yang berisi Kayu dengan diameter yg cukup besar, 1 buah motor di tukar dgn 1 hamparan gunung yg berisi kayu gaharu, yang akhirnya muncul konflik diantara masyarakat dengan jalan saling mencurigai satu sama lain, saling klaim atas lahan, saling klaim atas sungai-sungai, bahkan mulai saling bunuh- membunuh antara kelompok satu dengan yang lain.
Anak Nongkrong Terminal, Susuri Sungai
"Gaul Men" ungkapan yang biasa mereka tujukan pada pencela atau yang dianggap beda dengan biasanya...... Anak muda ini biasa nongkrong di terminal cipeuteuy, bukan sekedar nongkrong, mereka siap mengantar orang/penumpang kemanapun dengan motor modifikasi yang diparkir di terminal tersebut. Biasanya anak muda ini menggelar acara kumpul bareng setiap malam minggu, salah satu tempat yang sering mereka kunjungi adalah bengkel yang dimiliki oleh orang tua dari salah satu anggota mereka. Bengkel tersebut berada di belakang terminal, tempat alternativ yang strategis tutur Dede Ipan (pecinta motor) untuk ngotak-ngatik motor dan yang pasti bisa pakai peralatan bengkel dengan biaya murah.
Berbeda kali ini, biasanya anak nongkrong ini mengendarai motor kemanapun, kali ini mereka terpaksa jalan kaki bahkan nyemplung/nyebur ke dalam aliran sungai Citarik. Citarik merupakan sungai yang bersumber dari Taman Nasional Gunung Halimun-Salak (TNGHS) dan kemudian melintasi: Kampung Pameungpeuk desa Cihamerang, kampung Batu Binang dusun Leuwiwaluh dan kampung Sukagalih, Dusun Pandan Arum (Citamiang) desa Cipeuteuy, Tugubandung, Cipanas, Gunung Malang,Citarik, Jl. Cikidang (crossing), Sampora, Gunung Gedogan, Buniwangi, Cikadu, Jl. Raya Pelabuhan Ratu (crossing), Cimandiri, Jl. Raya Cigadog (crossing), Cidadap dan berakhir di Laut Selatan.
DesaKu Malang DesaKu diTinggalkan
Sepinya Desa adalah Modal Utama untuk Bekerja dan Mengembangkan Diri
Walau Lahan sudah Menjadi Milik Kota, Bukan Bearti Desa Lemah Tak Berdaya
Desa adalah Kekuatan Sejati, Negara Harus Berpihak pada Para Petani
Entah Bagaimana Caranya, Desa adalah Masa Depan Kita
Keyakinan ini Datang Begitu Saja, Karena Aku Tak Mau Celaka
Desa adalah Kenyataan, Kota adalah Pertumbuhan
Desa dan Kota tak Terpisahkan, Tapi Desa Harus di Utamakan
Sebuah cerita disaat duduk termenung di sela-sela ngobrol bareng dengan beberapa pemuda kampung yang berasal dari Desa Cipeuteuy, Kecamatan Kabandungan, Kabupaten Sukabumi. Tiba-tiba terdengar suara musik pertanda jam 3 sore, Suara Tatalepa Cipeuteuy (STC FM) mulai mengudara. Terdengar suara khas musisi terkenal yang membuat kumpulan pemuda mengangguk dan menggelengkan kepala mereka, lagu tersebut akhirnya memperluas topik pembicaraan kala itu. Kenapa sebagian besar muda mudi desa malah pergi ke kota dan bekerja disana.....? "Salah satu pemuda mulai bertanya"
Desa Cipeuteuy terletak di kaki Taman Nasional Gunung Halimun - Salak (TNGH-S) dan berpenduduk sebanyak 6.654 jiwa, mayoritas mata pencaharian desa ini adalah petani. Ironis ketika bicara masalah pertanian, karena desa Cipeuteuy hanya memiliki lahan kurang lebih seluas 553 ha. Selama ini petani memanfaatkan lahan terlantar eks HGU perkebunan cengkeh PT. Intan Hepta seluas 583 ha, dan lahan perluasan Taman Nasional seluas 2.115 ha yang sebelumnya dikelola oleh Perum Perhutani dan Masyarakat melalui program Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat (PHBM) melalui kegiatan pertanian dengan sistim tumpang sari. Pilihan yang terpaksa dilakukan walaupun status pengelolaan dan kepemilikannya tidak jelas karena keterbatasan lahan.
Muncul kekhawatiran petani atas ketidakjelasan status, kekhawatiran tersebut membuat sebagian petani yang mengelola lahan eks HGU menjual lahan garapannya kepada orang luar (kota). Sedangkan petani yang mengelola lahan perluasan Taman Nasional masih belum nyaman dan cenderung ketakutan lahan nya diambil alih, belum ada kejelasan pengelolaan yang dilakukan oleh kedua belah pihak yang berakibat munculnya konflik kepentingan.
Perlahan Tapi Pasti atau Berhenti Terjungkal
Sebuah cerita disalah satu dusun di tepi kawasan hutan Taman Nasional Gunung Halimun - Salak, sekelompok masyarakat hidup bersahaja dengan alamnya. Pengetahuan lokal tentang tata kelola lingkungan mulai diterapkan di kampung ini, upaya-upaya membangun secara kolektif melalui kesadaran kritis terus di kumandangkan melalui diskusi dan obrolan ringan antar anggota kelompok.
Diskusi kelompok kali ini sedikit berbeda, keheningan yang disebabkan tidak berfungsinya micro hidro sebagai sumber listrik, hembusan angin kencang disertai rintik hujan dan cahaya redup lampu lentera menjadi saksi bisu gagasan perubahan yang akan dilakukan di desa Cipeuteuy. Sambutan hangat warga tak bisa lagi di bendung, "Teruskeun...! kenae laun oge, daripada eureun bari ngajungkeul" tangkas salah satu tokoh kampung. Memang berat rasanya ikut terlibat berperang dalam politik desa, namun dengan kekuatan dukungan keluarga, saudara dan teman-teman serta niat yang tulus dan tekad terus memimpin perubahan menuju kerakyatan dan kelestarian mustahil untuk tidak tercapai.
Kunjungan PT. PNM ke CLC Cipeuteuy
PT. PNM (Poros Nusantara Utama) pada 8 sampai 10 November melakukan kunjungan ke Desa Cipeuteuy, maksud dan tujuan acara ini adalah untuk melakukan evaluasi bersama terkait dengan kerjasama pengembangan CLC (Community Learning Centre). Terdapat 3 Rekomendasi hasil pembahasan, yaitu Rencana strategis pengembangan media, Peningkatan kapasitas dan Penggalangan dukungan publik.
Sesuai dengan semangat dan tujuan didirikannya CLC, bahwa sebagai media kerakyatan tentunya membutuhkan dukungan dari masyarakat luas untuk keberlangsungan program ini. Absolute sebagai salah satu penyelenggara, memberikan ruang kepada siapapun masyarakat yang berada di Kabupaten Sukabumi untuk terlibat langsung dalam pengelolaan. Harapan besar bagi Absolute dan PNM media ini berguna bagi masyarakat luas, selain itu masyarakat terlibat dalam pengelolaan secara langsung dan menjadi tanggung jawab bersama dalam mengupayakan media tersebut tetap eksis.
Silahkan bergabung, mari kita buka ruang gelap informasi yang dianggap tabu bagi kepentingan publik....!
" PERTANIAN ALAMI " adalah bentuk nyata perlawanan terhadap system kapitalisasi pertanian di pedesaan
Suka Cita di Tanah Berstatus Quo
Sawah tersebut memang sebagian kecil dari luasan lahan yang dikelola oleh masyarakat desa Cipeuteuy, Cihamerang, Tugu Bandung dan Kabandungan. Tanah seluas 583 ha yang dikelola oleh PT. Intan Hepta semenjak tahun 1975 berdasarkan izin HGU (Hak Guna Usaha) dari pemerintah, HGU tersebut berlaku sampai dengan tahun 2001. Sebelum masa aktif HGU habis, tepatnya tahun 1995 PT Intan Hepta mengalami kerugaian dan tidak bisa mengelola lagi perkebunan, pohon cengkeh yang ada di tebang habis dan perkebunan tersebut ditinggalkan. Karena tidak ada yang mengelola, tanah eks perkebunan ini menjadi terlantar dan hanya ditumbuhi oleh semak belukar, pada masa itu masyarakat yang berada di sekitar perkebunan kehilangan pekerjaan dan mulai timbul masalah dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Wisata Pilihan Di Halimun
Berkunjung ke kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak tak hanya menikmati indahnya hutan yang masih perawan, sejuknya udara dan jernihnya air sungai yang mengalir sepanjang musim, namun kegiatan yang menarik lainnya dapat menjadi pilihan pengunjung kawasan TNGHS adalah mengamati berbagai jenis burung yang ada di kawasan ini.Wendy adalah salah satu WISMAN asal Negara Kincir Angin yang datang ke Taman Nasional Gunung Halimun Salak (tepatnya bermalam di Kampung Citalahab), menggunakan fasilitas homestay, menikmati menu local yang disiapkan pengelola homestay yang sangat sederhana namun tak mengalahkan hidangan hotel ***** 5 (Pengakuannya.)
Wendy dan family datang ke TNGHS hanya untuk melihat beberapa spesies burung endemic di pulau Jawa yang ada di Halimun (Luntur Gunung dan Elang Jawa).
Dengan susah payah dan penuh kesabaran akhirnya apa yang menjadi target perjalanan 3 hari 1 malam nya di halimun dapat tercapai, rasa letih pun segera terobati.
Cuap Cuap Di Udara
107,9 Suara Tatalepa Cipeuteuy (STC FM) Mihape Leuweung, gunung katut eusina, keur wariskeneun ka anak incu dina mangsa nu bakal datang....Begitulah sapa dan salam pembuka yang menjadi ciri khas radio komunitas STC FM. Dengan perangkat siar yang sederhana dan murah meriah (daya pancar pemancar 30 Watt, mixer, mickropon dan player) namun tidak mengurangi semangat dan komitmen untuk menyampaikan informasi dan menyadarkan warga desa, mulai pukul 15.00 s.d 23.00 Radio STC FM mengudara, setia mengisi ruang dengar warga masyarakat desa Cipeuteuy. Dengan canda dan obrolan ringan sang penyiar menyapa para pendengarnya. Dengan menyisipkan informasi-informasi yang ada diseputar kampung mulai dari info harga penerimaan sayur mayur, harga sembako yang semakin melangit sampai dengan informasi rencana pemerintah dengan kebijakannya akan menaikkan tariff dasar listrik dan harga pupuk yang semakin mencekik. Padahal situasi masyarakat yang sedang SENEN KEMIS per ekonomiannya (biaya produksi pertanian semakin tinggi, sementara harga jual hasil produksi tidak ada jaminan pasar/pluktuatif plus spekulatif). Dan apa yang disampaikan tanpa disadari perlahan tapi pasti dapat mempengaruhi, membuat orang (siapapun) yang mendengar menjadi terbuka pola fakir dan potensi untuk berfikir kritis jika hal itu disampaikan dengan cara dan bahasa yang sederhana, mudah dimengerti.
Visit on Sukagalih
On July 27th, I visited Sukagalih village with Mr.Teguh Hartono, his daughter Aulia and Dwi Setyorini as a translator. The reason why I wanted to visit there is because I would like to know how people are living with national park, before coming there, I have heard from Professor of IPB that Sukagalih village is well know for good forest management, so I decided to visit the village.
First, I met Mr. Kosar (Absolute) at his house and learn general information on Sukagalih, according to him, the village was formed in 1960s, they have been practicing tumpang sari from 1980s, which means that their land belongs to Ministry of Forestry and that they were allowed using the land for agriculture. Instead of taking care of forest growing there. People living there support their lives by tourism and agriculture, and there are two groups which organize tourism activity and agriculture: The farmer is Kelompok Pelestari Alam and the latter is Selaras. They have been protecting their, forest event in the time of political change (1998-) and disastrous deforestation occurred, because of their clear consciousness of protecting forest, the government trust on them very much.











